Biografi: Denny Sumargo 3


Kami pindah ke Makassar.

Dengan berbagai bantuan teman-teman ibu, akhirnya kami bisa mendapatkan uang dan pergi ke Makassar untuk sekali lagi tinggal bersama saudara ibu, Bibi yang pernah menolongnya. Di Makassar ibu hanya sementara tinggal bersama Bibi saya mengingat sepertinya Bibi tidak pernah rela menampung kami dengan ikhlas. Untungnya kami bertemu dengan seorang sahabat kecil ibu yang bernama Tante Ana dan suaminya. Ia adalah sahabat ibu semasa Sekolah Dasar dulu, mereka sudah menikah sejak tiga tahun lalu namun sayang tidak dikarunia seorang anak.

Ibu menumpang pada keluarga itu cukup lama terlebih kedua orang itu sangat menyukai saya, kehadiran saya dalam keluarga itu seolah mengobati kerinduan mereka terhadap seorang anak. Ibu bekerja seperti dulu menjahit disebuah rumah konveksi, ketika ia bekerja saya dijaga oleh tante Ana yang begitu mencintai dan memanjakan saya. Ibu yang mendapatkan peluang usaha dari uang yang ia kumpulkan dari hasil kerjanya di Konveksi mulai berpikir untuk berdagang baju.

Awalnya ia memberi pakaian yang ia pesan dari Jakarta kemudian dengan sekarung tas besar ia membawa pakaian-pakaian itu untuk dijajahkan di setiap rumah di sekitar Makassar. Walaupun terasa menyedihkan dan serta kepanasan karena cuaca Makassar yang panas, ibu tidak pernah menyerah. Dalam pikirannya hanya satu ia ingin saya bisa bersekolah setahun mendatang ketika usia saya 6 tahun. Saya terkadang hanya bisa menahan haru ketika ibu berangkat berdagang setelah mengecup kening saya dan membiarkan Tante Ana mengendong saya.

Terkadang hasil berdagangnya lancar tetapi terkadang juga tidak sama sekali, tapi tekad ibu yang kuat membuat semua dijalankan dengan ikhlas disertai jalan Tuhan. Ia percaya bahwa Tuhan akan memberikan jalan padanya agar bisa menyekolahkan saya, padahal saya tidak pernah terpikir untuk sekolah dan selalu menghabiskan waktu ikut dengan suami Tante Ana ke Pasar untuk belajar banyak hal. Tante Ana bersuamikan seorang Preman pasar yang kerjanya menagih upeti dari setiap pedagang. Jadi saya tidak asing melihat sedikit kekerasan yang ia perlagakan kepada saya.

Suami Tante Ana pandai berkarate dan ia tanpa ragu mengajarkan saya untuk berkarate agar bisa menjaga diri saya, saya yang terinspirasi oleh kisah Superman akhirnya ikut juga dalam setiap ajaran karate yang selalu kami lakukan setiap sore di halaman rumah kami. Saya menikmati masa-masa kebahagiaan dan kasih saya yang tidak pernah saya dapatkan dari saudara-saudara ibu dari Tante Ana dan suaminya. Usaha ibu berjalan dengan baik dan ia memutuskan untuk membeli langsung pakaian ke Jakarta, bisa jadi dalam setiap tiga bulan ia pulang pergi kota Jakarta dan Makassar.

Ketika ibu berpergian, Suami Tante Ana yang kebetulan berkeyakinan Muslim mulai mengajarkan saya tentang agama Islam. Saya mulai mengerti sedikit tentang bagaimana Sholat dan membaca Al-Quran, masa-masa itu menjadi masa paling indah saya, mereka sudah seperti orang tua saya yang begitu tulus memberikan kasih sayangnya pada saya. Ibu saya yang semakin sibuk akhirnya malah lebih memutuskan untuk berdagang diluar Kota Makassar dan bisa dalam seminggu ia tidak pulang, tapi saya tidak cemas karena orang tua baru saya ini menjaga saya dengan baik.

Ibu yang sudah mulai memiliki sedikit tabungan mulai berpikir tentang masa depan saya, ia berpikir saya akan hidup lebih baik dengan bersekolah di Jakarta. Ketika ide itu diceritakan kepada Tante Ana dan suaminya, mereka keberatan. Mereka sudah sangat mencintai saya seperti anak kandung dan tidak rela untuk dipisahkan dengan jarak yang begitu jauhnya. Tapi ibu yang keras kepala tetap berpikir untuk membawa saya ke Jakarta dan sejak itu terjadilah percekcokan antara ibu dan Tante Ana berserta suaminya.

Saya yang tidak mengerti apa-apa pada saat itu hanya bisa diam dan menangis melihat mereka bertengkar. Tante Ana dan suaminya yang sudah tidak rela dengan kepergiaan saya kemudian mengambil keputusan untuk membawa saya pergi tanpa sepengetahuan ibu. Tiga bulan lamanya saya tinggal di rumah ibu dari tante Ana tanpa pernah bertemu dengan ibu saya. Ketika saya tanyakan tentang keberadaan ibu, tante Ana dan suaminya hanya berkata

“ Mama kamu sedang bekerja di Jakarta.. kamu disini sama Tante saja..” ujar Tante sembari memberikan mainan mobil untuk menghilangkan rasa kangen terhadap ibu saya.

Saya tidak sadar bahwa saya sedang diasingkan dari ibu hingga suatu ketika saat saya sedang membeli kue manisan di jalan dan menemukan ibu yang langsung memeluk saya. Dengan cepat ibu langsung menarik tangan saya menaiki angkutan umum tanpa saya ketahui saya sedang dibawa pergi dari kedua orang tua baru saya. Saya yakin mereka akan panik mencari saya tapi seingat saya ibu sudah mengirimkan pesan pada sebuah warung untuk memberitahu bahwa saya dibawa oleh ibu untuk kembali padanya. Sejak saat itu saya tidak pernah lagi bertemu orang tua baru yang sangat mencintai saya itu selamanya.

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s